Manusia dan Keadilan

Teori : Pengertian Keadilan dan Pembalasan Beserta Contohnya

Dalam KBBI

Menurut bahasa Indonesia dalam KBBI IIIadil adalah kata sifat yang berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, berpegang pada kebenaran, sepatutnya, dan tidak sewenang-wenang. Adil juga dapat disebut sebagai benar, betul, jujur, lurus, rata, saksama, seimbang, setimbal, atau setimpal. Sedangkan dengan imbuhan, keadilan, adalah kata nomina yang berarti sifat (perbuatan, perlakuan, dsb) yang adil.
ᔥ adil – Kateglo

Dalam Wikipedia

Dalam laman Wikipedia bahasa Inggrisjustice atau keadilan adalah “concept of moral rightness based on ethics, rationality, law, natural law, religion, or equity, along with the punishment of the breach of said ethics; justice is the act of being just and/or fair.” Arti dari pernyataan tersebut lebih kurang menyatakan bahwa keadilan adalah konsep atau kondisi kebenaran ideal secara moral yang berdasarkan etika, rasionalitas, hukum, hukum alam, agama, atau ekuitas, yang bersama dengan hukuman pelanggaran etika mengatakan; keadilan adalah tindakan yang apa adanya dan/atau adil. Secara singkat dalam laman Wikipedia bahasa Indonesia, Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang.
ᔥ Justice – Wikipedia
ᔥ Keadilan – Wikipedia

Gambaran Keadilan

Maskot keadilan, digambarkan seperti patung di The Central Criminal Court atauOld Bailey di London, Inggris ini; seringkali digambarkan sebagai ratu adil, salah satu dewi romawi. Beberapa orang mengilustrasikan dan membuat patungnya sebagai wanita yang memakai penutup mata serta membawa pedang dan timbangan. Artinya secara singkat, keadilan itu tidak memihak. Walaupun begitu, sebenarnya tentu saja yang benar-benar adil adalah Tuhan Yang Maha Adil.

Pembalasan sebagai Keadilan

Terkait dengan keadilan, tentu ada reaksi untuk memperoleh keadilan yang salah satunya adalah melalui pembalasan yang setimpal yang bukan berarti dendam. Dalam bahasa Inggris, pembalasan jenis tersebut disebut retributive justice. Dalam laman Wikipedia bahasa Inggrisretributive justice atau keadilan retributif adalah “theory of justice that considers that punishment, if proportionate, is a morally acceptable response to crime, with an eye to the satisfaction and psychological benefits it can bestow to the aggrieved party, its intimates and society.” Arti dari pernyataan tersebut lebih kurang menyatakan bahwa keadilan retributif adalah teori keadilanyang menganggap hukuman itu, jika proporsional, merupakan respon yang diterima secara moral sebagai kejahatan, dengan penglihatan untuk manfaat kepuasan dan psikologis yang dapat dilimpahkan ke pihak yang dirugikan, teman-teman, dan masyarakat.
ᔥ Retributive justice – Wikipedia

Dalam Modul Psikologi Universitas Gunadarma

Pada modul psikologi Universitas Gunadarma, terdapat penjabaran yang agak cukup tentang pengertian pembalasan, penyebab pembalasan, dan contoh pembalasan. Dijelaskan secara singkat bahwa :

Pembalasan ialah suatu reaksi atau perbuatan orang lain. Reaksi itu berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang. Sebagai contoh; A memberikan makanan kepada B, dilain kesempatan b memberikan minuman kepada A. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan serupa, dan ini merupakan pembalasan. Dalam Al-Qur`an, terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan bagi yang bertaqwa kepada Tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari perintah Tuhanpun diberikan pembalasan, dan pembalasan yang diberikanpun pembalasan yang seimbang, yaitu siksaan di neraka.

Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan, pergaulan yang bersabahat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula. Pada dasarnya manusia adalah mahluk moral dan mahluk sosial. Dalam bergaul manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakikatnya adalah perbuatan yang melanggar atau memperkosa hak dan kewajiban manusia lain.

ᔥ Modul Psikologi UG – Manusia & Keadilan (diedit)

Artikel : Pembalasan dalam Bentuk Gugatan Hak Paten (Patent Lawsuit)

[Mari membahas sesuatu yang jarang dibahas di “negara seperti ini”]

Konsep hukum keadilan di negara maju seperti Amerika Serikat [bisa dibilang sebenarnya] sangatlah ketat, apalagi dengan hukum di Singapura yang serba adil. Sebaliknya sangat amat jauh [sekali] jika dibandingkan dengan “negara seperti ini” yang [bisa dibilang seperti] tidak ada hukum yang adil [lagi]. Maka dari itu, dalam dunia teknologi dan hak kekayaan intelektual, banyak hal seperti paten yang sangat dipentingkan [karena diharapkan tadinya] demi terciptanya kompetisi / persaingan antar perusahaan teknologi yang adil dan sehat, para perusahaan besar teknologi kelas dunia berlomba-lomba untuk mematenkan ciptaan teknologi yang dimiliki dan sudah dibuat. Hal tersebut ditujukan pada sisi positif agar perusahaan pesaing tidak dapat seenaknya memakai properti yang dimiliki sehingga kepemilikan inovasi dapat terjaga. Walaupun begitu, banyak sisi negatif karena menghambat kreativitas dan improvisasi. Jika dibandingkan dengan “negara seperti ini”, tentunya hak paten / intelektual / kepemilikan seringkali tidak dipedulikan sehingga banyak plagiarisme, kecurangan, duplikasi, dll. Padahal “negara seperti ini” [katanya sih] negara hukum, tapi [kenyataannya] tidak bisa menegakkan hukum seperti keadilandalam kepemilikan.

Sekitar bulan Oktober 2010 [bahkan sampai sekarang], persoalan tentang hak paten dan gugatan hukum tentang itu sangat ramai diperbincangkan oleh banyak pakar dan “pakar-pakaran”. Jika Anda mencari di Internet melalui Google, DuckDuckGo, Bing, Yahoo, dll dengan kata kunci “tech company lawsuit”, banyak sekali perbincangan yang dapat ditemukan. Secara statistik berdasarkan data dari Patent Freedom , perusahaan teknologi perangkat keras teratas yang paling banyak terkait dan terkena dampak adalah Hewlett-Packard, Apple, dan Samsung. Karena adanya sifat [pastinya] ingin membalas, tentunya para perusahaan yang terkait [bisa] saling gugat-menggugat untuk balas-membalas.

Banyak informasi tentang “siapa menggugat siapa” dalam perdagangan teknologi dan telekomunikasi. Hubungan antar perusahaan yang terkait bisa banyak ditemukan dalam bentuk informasi grafis, seperti artikel singkat pada Information is Beautiful yang berjudul Who’s Suing Whom In The Telecoms Trade? yang secara singkat hanya berupa infografis dan membahas sedikit tentang kemungkinan adanya kerugian di atas keuntungan dalam gugat-menggugat.


Who’s Suing Whom In The Telecoms Trade Infographic

Di sisi yang sama, sebuah artikel kartun Bonkers World yang berjudul Who sues who secara menarik menampilkan infografis penggugatan hak patn dalam bentuk yang kartunis :

Lebih spesifik tentang gugatan hukum atas paten perangkat bergerak (mobile), The Guardian edisi UK yang berjudul Microsoft sues Motorola over Android – and all the other mobile lawsuits, visually menampilkan secara lebih informatif tentang persaingan tersebut. Hal tersebut juga dapat ditemukan dalam artikel New York Times bagian Bits Blog yang berjudul An Explosion of Mobile Patent Lawsuits

Pendapat : Membalas Perlakuan Untuk Keadilan Hukum

Bocoran : Hampir semua pendapat dalam bagian ini adalah sangat subjektif dengan sedikit objektif saya yang berusaha untuk sangat idealistis tapi memang kurang realistis.

Proses Pengadilan sebagai Keadilan

Demi terciptanya keadilan hukum, aspek pembalasan adalah salah satu hal yang terpenting. Karena dengan pembalasan, orang yang berlaku tidak adil atau melanggar hukum keadilan dapat diberi hukuman yang setimpal dengan ukuran yang adil. Sehubungan dengan itu, tentunya seluruh pihak yang berhubungan harus menurut kepada hukum keadilan, bukan pengennya-hukumnya-kayak-gini atau yang-penting-ada-duit.

Saya tidak terlalu mengerti persoalan hukum di “negara seperti ini”. Tapi sejauh yang saya tahu dan mengerti, pihak tertinggi agar dapat dilakukan pembalasan yang adil kepada pelanggar hukum adalah hakim dan rekan-rekannya di kursi dan meja yang [katanya] tertinggi. Lalu pihak setelah itu adalah penegak hukum yang lain (polisi), saksi, pengacara (jika ada), dan yang paling penting adalah pelaku (tersangka). Sisanya penonton.

Di dalam proses pengadilan klasik untuk menindak lanjuti dan menentukan balasan yang setimpal bagi pelaku pelanggar keadilan, hukum di tempat tersebut dan hakim lah yang paling menentukan. Tapi di “negara seperti ini”, sepertinya kecerdasan [atau kelicikan] dan jumlah duit pelaku yang diadili adalah yang paling menentukan. Padahal seharusnya, keadilan dan kejujuran lah yang paling menentukan.

Pembalasan sebagai Keadilan di Negara Lain

Bosan dengan masalah klasik sehari-hari yang ada di “negara seperti ini”, mari melihat dan mengetahui yang terjadi di luar “negara seperti ini” seperti Singapura, negara maju yang tidak jauh jaraknya tapi jauh lebih ke depan peradabannya daripada “negara [yang katanya berkembang] seperti ini”. Di Singapura, bahkan pelanggaran hukum yang sekecil apapun dan terlihat akan/harus diadili dan ditidak lanjuti pembasalan/dendanya sesegera mungkin tanpa lama-lama seperti yang terjadi di “negara seperti ini”.

Contoh nyata yang paling [sepertinya] ringan misalnya; pelanggaran karena membuang sampah sembarangan, menyebrang tidak pada tempatnya, merokok di tempat umum, dan lain sebagainya. Beberapa contoh tersebut [kenyataannya] bukanlah pelanggaran hukum di “negara seperti ini”. Tapi beberapa contoh tersebut merupakan pelanggaran yang sangat amat berat jika dibandingkan dengan “negara seperti ini”. Karena denda yang harus dibayar karena melakukan salah satu [saja] dari beberapa contoh tersebut adalah senilai lebih dari $500 hingga $5000, atau sekitar Rp 3.700.000 hingga Rp 36.800.000 yang tentunya bukan jumlah yang sedikit. Kalau tidak bisa bayar, tentunya masuk penjara. Lebih lagi, sangat tidak mungkin ada “amplop untuk damai” di Singapura, berbeda sekali dengan “negara seperti ini” yang banyak praktek korupsi.

Hal-hal tersebut sangat patut dicontoh dan sebenarnya tidak perlu menunggu pemerintah untuk menerapkan hukum seketat dan seberat itu serta menyiksa masyarakat dalam menegakkankeadilan dan membalas pihak yang bersalah. Mulailah untuk berlaku adil kepada diri sendiri dengan tidak melanggar aturan hukum dan bertanggung jawab dengan kelakuan yang melanggar hukum. Dengan begitu, orang akan dapat lebih baik dan tentunya negara akan dapat lebih damai serta sejahtera.

— Muhammad Haidar Hanif, 54411850, 1IA07
Catatan : Sumber terkait terdapat pada tautan bertanda ᔥ
Sumber langsung terdapat pada tulisan bergaris bawah
Jargon : “Negara seperti ini” = Indonesia saat ini

Dengan kaitkata , , ,
%d blogger menyukai ini: