Manusia dan Pandangan Hidup

Teori : Pandangan Hidup dan Faktor Sebab Perilaku

Dalam Bahasa Indonesia

Pandangan hidup merupakan serangkai kata yang terdiri dari kata dasar pandang dan hidup. Menurut bahasa Indonesia dalam KBBI IIIpandang atau pandangan adalah penglihatan yang tetap dan agak lama serta hasil perbuatan memandang (memperhatikan, melihat, dsb), benda atau orang yang dipandang (disegani, dihormati, dsb), pengetahuan, dan pendapat. Sedangkan hidup adalah :

  1. masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (tentang manusia, binatang, tumbuhan, dsb)
  2. bertempat tinggal (diam)
  3. mengalami kehidupan dalam keadaan atau dengan cara tertentu
  4. beroleh (mendapat) rezeki dengan jalan sesuatu
  5. berlangsung (ada) karena sesuatu
  6. tetap ada (tidak hilang)
  7. masih berjalan (tentang perusahaan, perkumpulan, dsb)
  8. tetap menyala (tentang lampu, radio, api)
  9. masih tetap dipakai (tentang bahasa, adat, sumur, dsb)
  10. ramai (tidak sepi dsb)
  11. seakan-akan bernyawa atau benar-benar tampak seperti keadaan sesungguhnya (tentang lukisan, gambar)
  12. seperti sungguh-sungguh terjadi atau dialami (tentang cerita)
  13. seruan yang menyatakan harapan mudah-mudahan tetap selamat

Maka dari itu, pandangan hidup dapat diartikan sebagai penglihatan atas proses kehidupan yang sekarang atau masa depan yang ada di dunia.

Dalam Wikipedia / Pengertian Umum

Dalam laman Wikipedia bahasa Inggris, Philosophy of life atau pandangan hidup dalam hal informal adalah “a way of life whose focus is resolving the existential questions about the human condition.”. Lebih kurang artinya adalah, cara hidup yang fokus menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang kondisi manusia. Sedangkan dalam Wikipedia bahasa Indonesia, belum ada bahasan spesifik tentang pandangan hidup.

Dalam Modul Psikologi Universitas Gunadarma

Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku seseorang :

  1. Faktor pembawaan (heriditas)
    Hal yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan. Pembawaan merupakan hal yang diturunkan oleh orang tua. Tetapi mengapa mereka yang saudara sekandung tidak memiliki pembawaan yang sama. Hal ini disebabkan karena sel-sel benih yang mengandung faktor-faktor penentu (determinan) berjumlah sangat banyak, pada saat konsepsi saling berkombinasi dengan cara bermacam-macam sehingga menghasilkan anak yang bermacam-macam juga (prinsip variasi dalam keturunan). Namun mereka yang bersaudara memperlihatkan kecondongan kearah rata-rata, yaitu sifat rata-rata yang dimiliki oleh mereka yang saudara sekandung (prinsip regresi filial). Pada masa konsepsi atau pembuahan itulah terjadi pembentukan temperamen seseorang.
  2. Faktor lingkungan (environment)
    Lingkungan yang membentuk seseorang merupakan alam kedua yang terjadinya setelah seorang anak lahir (masa pembentukan seseorang waktu masih dalam kandungan merupakan alam pertama). Lingkungan membentuk jiwa seseorang meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga orang tua maupun anak-anak yang lebih tua merupakan panutan seseorang, sehingga bila yang dianut sebagai teladan berbuat yang baik-baik, maka si anak yang tengah membentuk diri pribadinya akan baik juga. Dalam lingkungan sekolah yang menjadi panutan utama adalah guru, sementara itu teman-teman sekolah kita ikut serta memberikan andilnya.
  3. Pengalaman
    Faktor pengalaman yang khas yang pernah diperoleh, Baik pengalaman pahit yang sifatnya negatif, maupun pengalaman manis yang sifatnya positif,memberikan pada manusia bekal yang selalu dipergunakan sebagai pertimbangan sebelum seseorang mengambil tindakan. Mungkin sekali bahwa berdasarkan hati nurani seseorang mau menolong orang kesusahan, tetapi karena pernah memperoleh pengalaman pahit waktu mau menolong orang dalam kesusahan, tetapi karena niat baiknya itu tertahan, sehingga diurungkan untuk membantu. Belajar hidup dari pengalaman inilah yang merupakan pembentukan budaya dalam diri seseorang.
Dalam prakteknya, diri ketiga faktor diatas, yaitu heriditas, lingkungan, dan pengalaman , manakah yang paling dominan, sulit diberikan jawaban karena ketiga-tiganya terjalin erat sekali. Disamping itu ketiga faktor tersebut dalam membentuk pribadi seseorang berbeda kekuatannya dengan pembentukan pada pribadi lain.

Artikel : Pengaruh Fisika terhadap Filosofi/Pandangan dan Agama

Dalam artikel The Atlantic yang berjudul Has Physics Made Philosophy and Religion Obsolete? oleh Ross Andersen, dibahas tentang pengaruh fisika terhadap filosofi dan agama. Terdapat wawancara dengan Lawrence Krauss, seorang fisikawan teoritis, yang menyatakan bahwa filosofi atau kebanyakan pandangan telah banyak tertinggal jauh bahkan tidak berkembang sedangkan sains / ilmu pengetahuan terus bekembang cepat. Tentu saja pandangan Krauss banyak menerima respon kritik negatif karena pandangan tersebut menyesatkan. Karena seharusnya dan sebenarnya, filosofi / pandangan dan agama adalah berkembang secara adaptif bersamaan dengan berkembangnya sains / ilmu pengetahuan. Tanpa adanya perkembangan filosofi dan agama yang baik, tentu saja dunia akan menjadi buruk. Tanpa itu juga, manusia tentunya tidak akan bisa hidup sampai sekarang karena tidak memiliki tujuan hidup yang jelas dan dipercaya.

Pendapat : Pandangan serta Perilaku Idealis dan Realis

Saya merupakan orang yang (mungkin) sangat idealis dibanding orang pada umumnya di negara yang katanya berkembang dan katanya berbentuk republik. Oleh karena itu, banyak hal dalam sudut pandang saya yang dapat dibilang salah (dan kenyataannya memang salah) yang sering saya temukan dalam kehidupan sehari-hari di negara yang katanya masih punya harapan. Yang lebih parah lagi, pandangan masyarakat umum pada kesalahan-kesalahan tersebut seringnya justru hanya dimaklumi, dianggap umum, dan tidak ingin dibenarkan. Lalu jika ada yang ingin membenarkan, malah dilawan. Keadaan inilah yang menjadikan adanya penularan pandangan dan perilaku yang bersifat negatif di dalam masyarakat negara yang katanya bersatu ini.

Saya meihat banyak realita perilaku yang buruk dan baik (tapi kebanyakan buruk) di negara yang katanya berasaskan Pancasila. Hukum dan peraturan yang seharusnya dijunjung tinggi karena katanya negara ini negara hukum seringkali diabaikan dan dilanggar dengan mudah. Bahkan yang sudah dinyatakan dan jelas-jelas bersalah masih ada (bahkan banyak) yang lolos dari jeratan hukum. Dari berbagai hal yang terjadi dan berkaitan dengan itu, maka semakin lama banyak orang di negara yang katanya berpandangan bahwa hukum dibuat untuk dilanggar, yang tentunya amat sangat sesat dan seharusnya pandangan tersebut dimusnahkan. Di samping itu, perlu ada proses perubahan dan perbaikan pandangan hidup dan perilaku masyarakat serta pemerintah yang sudah banyak melenceng dari aturan sesungguhnya di negara yang katanya punya aturan, yaitu ideologi Pancasila.

Saya pikir maka dari kenyataan itulah, menurut saya dan beberapa orang tentunya berpendapat bahwa harus ada seseorang dan banyak orang idealis tapi juga realis agar dapat memperbaiki pandangan dan perilaku di negara yang katanya akan berjaya kembali jika ingin kembali ke jalan yang benar dan berjaya kembali. Lalu yang paling penting, adanya kerjasama antara yang ingin memperbaiki, bisa memperbaiki, dan mendukung perbaikan agar perbaikan dapat terlaksana serta tujuan dapat terwujud.

— Muhammad Haidar Hanif, 54411850, 1IA07
Catatan : Sumber terkait terdapat pada tautan bertanda ᔥ
Sumber langsung terdapat pada tulisan bergaris bawah

Dengan kaitkata , , , ,
%d blogger menyukai ini: